Homepage Widgets (ATF)

Homepage Widgets

Hilal Tak Terlihat, Lebaran 1447 H Diprediksi Jatuh 21 Maret

Posisi hilal belum memenuhi kriteria visibilitas, pemerintah menunggu hasil rukyat melalui sidang isbat nanti

Harapan umat Islam untuk segera mengakhiri Ramadan 1447 Hijriah belum terwujud. Tim Hisab Rukyat dari Kementerian Agama Republik Indonesia menyatakan posisi hilal pada 29 Ramadan belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan.

Ilustrasi. Foto: pixabay/marath maroli

JAKARTA - Pernyataan itu disampaikan anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag, Cecep Nurwendayah, dalam Seminar Posisi Hilal yang berlangsung di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Pusat Kemenag, Jakarta, Kamis (19/3/2026).

Menurut Cecep, meskipun tinggi hilal di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Aceh, sudah melewati batas minimum, namun syarat elongasi belum terpenuhi sesuai ketentuan MABIMS.

“Secara ketinggian, sebagian wilayah telah memenuhi batas minimum. Namun elongasi hilal masih berada di bawah standar yang ditetapkan,” jelasnya.

Ia merinci, tinggi hilal di Indonesia berada pada kisaran 0,91 derajat hingga 3,13 derajat, sementara elongasinya berkisar antara 4,54 derajat sampai 6,10 derajat. Angka ini masih di bawah ketentuan visibilitas hilal yang mensyaratkan elongasi minimal 6,4 derajat.

“Dengan kondisi ini, secara teoritis hilal tidak mungkin dirukyat di seluruh wilayah Indonesia,” tegas Cecep.

Berdasarkan hasil perhitungan hisab tersebut, awal Syawal 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Namun demikian, pemerintah menegaskan bahwa keputusan resmi tetap menunggu hasil rukyat yang akan diumumkan melalui sidang isbat.

Kementerian Agama dijadwalkan mengumumkan penetapan 1 Syawal melalui konferensi pers pada pukul 19.25 WIB malam ini.

Penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia sendiri mengacu pada kombinasi metode hisab dan rukyat, sebagaimana kesepakatan negara-negara anggota MABIMS, guna memastikan ketepatan sekaligus keseragaman dalam penetapan hari besar keagamaan umat Islam di Tanah Air.