Bupati Safaruddin Instruksikan Dinsos dan Baitul Mal Abdya Bantu Nurlaila di Jeumpa
Tangis bayi sesekali memecah sunyi di sebuah rumah papan berdinding lapuk di Dusun Alue Badeuk, Gampong Cot Mane, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Di sudut ruangan itu, Nurlaila (30) menimang anak bungsunya yang baru berusia tiga bulan, bayi yang belum sempat benar-benar mengenal sosok ayahnya.
|
|
Bupati Safaruddin instruksikan bantuan untuk rumah papan lapuk Nurlaila bersama Baitul Mal Abdya. Foto: Ist |
JEUMPA - Sejak suaminya, Yusman (45), meninggal dunia saat melaut, hidup Nurlaila berubah seketika. Ia kini menjadi satu-satunya penopang bagi tiga anaknya yang masih kecil, tanpa pekerjaan tetap dan tanpa kepastian penghasilan.
“Ia meninggal tiba-tiba di laut, tanpa sakit sebelumnya,” kata Nurlaila, Senin (13/4/2026), dengan suara tertahan.
Peristiwa memilukan itu terjadi pada Kamis, 9 April 2026, sekitar pukul 17.00 WIB. Seperti hari-hari sebelumnya, Yusman pergi melaut untuk mencari nafkah. Namun, ia tak pernah kembali. Laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan justru menjadi tempat perpisahan terakhir bagi keluarganya.
Anak sulung mereka masih duduk di kelas II sekolah dasar. Anak kedua baru mengenyam pendidikan taman kanak-kanak. Sementara si bungsu, masih dalam gendongan dan sepenuhnya bergantung pada ibunya.
Kondisi rumah yang mereka tempati pun jauh dari kata layak. Beratap seng, berlantai semen kasar, dan berdinding papan yang mulai rapuh. Rumah itu berdiri di atas tanah milik orang tua Nurlaila.
Dalam situasi tersebut, kebutuhan sehari-hari menjadi beban yang terus menghimpit. Untuk sekadar makan, Nurlaila harus membeli beras karena tidak memiliki sawah maupun sumber penghasilan lain.
“Saya berharap ada pekerjaan tetap ke depan, supaya bisa menafkahi anak-anak,” ujarnya lirih.
Namun harapan itu belum mudah diwujudkan. Bayi yang masih kecil membuatnya belum memungkinkan bekerja di luar rumah. Hari-harinya diisi dengan mengurus anak, sembari bergantung pada bantuan keluarga dan tetangga.
Ikramah (25), kerabat dekat Nurlaila, menyebut kondisi ekonomi keluarga ini memang sudah terbatas bahkan sebelum Yusman meninggal. Kini, beban itu semakin berat.
“Harapan kami, anak-anak ini tetap bisa sekolah dengan layak,” kata Ikramah.
Ia juga berharap pemerintah daerah dapat memberi perhatian, terutama untuk menjamin pendidikan ketiga anak tersebut, serta membuka peluang pekerjaan bagi Nurlaila di masa mendatang.
“Mungkin salah satu pekerjaan yang memungkinkan sebagai tenaga pencuci omprengan di dapur program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.
Di sisi lain, Panglima Laot Abdya, T. Indra Kusuma atau Acek Muntir, menilai peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi komunitas nelayan agar memperkuat solidaritas.
“Ke depan, nelayan harus lebih kompak. Perlu ada iuran bersama untuk membantu keluarga korban,” kata Acek.
Ia juga mengimbau para nelayan agar terdaftar dalam program BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk perlindungan saat menghadapi risiko kerja di laut.
Sementara itu, Bupati Aceh Barat Daya Safaruddin langsung merespons kondisi tersebut dengan menginstruksikan Dinas Sosial dan Baitul Mal untuk turun ke lokasi.
"Saya instruksikan kepada Dinsos dan Baitul Mal segera turun ke rumah Ibuk Nurlaila, pastikan mereka tidak terabaikan. Jika layak dibantu, segera diberikan bantuan," kata Bupati Safaruddin, Senin (13/4/2026).
Ia menegaskan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan perhatian.
"Anak-anak yatim tidak boleh merasa sendiri, kaum duafa tidak boleh terabaikan, termasuk Ibuk Nurlaila," ucap Safaruddin.
Menurutnya, berbagai program santunan, bantuan sosial, hingga pembangunan rumah layak huni terus didorong secara berkelanjutan di Abdya.
"Nanti Dinsos dan Baitul Mal akan mengecek langsung kondisi rumah dan keadaan Ibuk Nurlaila. Kita sebagai pemerintah akan memberikan perhatian terhadap mereka," ujarnya.
Ia juga meminta para keuchik dan perangkat gampong aktif melaporkan warga yang masih tinggal di rumah tidak layak huni.
"Laporkan segera ke pemerintah daerah. Kita ingin pastikan selama lima tahun ini tidak ada lagi warga Abdya yang tinggal di rumah tidak layak huni," pungkasnya.
Menindaklanjuti instruksi tersebut, Tim Baitul Mal Abdya langsung turun ke lokasi pada Senin malam. Peninjauan dipimpin Ketua Baitul Mal Abdya, Tgk Syamsul Qamar, bersama Kepala Sekretariat Bustari dan tim, serta didampingi Keuchik Gampong Cot Mane, Amiruddin.
"Pada malam ini, kami melihat secara langsung kondisi tempat tinggal ibu Nurlaila, serta kebutuhan mendesak yang dihadapi keluarganya," ujar Tgk Syamsul Qamar.
Ia menegaskan, peninjauan ini menjadi langkah awal untuk memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran.
"Peninjauan ini juga kita lakukan sebagai bagian dari verifikasi awal agar bantuan yang diberikan tepat sasaran," katanya.
Di tengah duka yang belum reda, Nurlaila hanya berusaha bertahan. Menjaga anak-anaknya tetap makan, tetap sekolah, dan tetap memiliki harapan.
Harapannya sederhana, memiliki pekerjaan tetap dan masa depan yang lebih baik bagi ketiga buah hatinya.
Posting Komentar